Pengalaman Magang Mahasiswa di MTs. Muallimin NW Pancor

Tulisan berikut ini merupakan pengalaman berharga yang ditulis oleh Muh. Rozi Hidayat, Iin Aulia Suganda, dan Nurdiati selama melaksanakan magang 1 dan 2 di MTs. Muallimin NW Pancor. Magang  adalah salah satu mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa Universitas Hamzanwadi. Magang merupakan salah satu kulminasi atau muara program yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memantapkan kompetensi pedagogik, kepribadian, dan sosial dalam rangka memperbaiki atau meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Selain itu, magang diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar bagi mahasiswa, terutama dalam hal pengalaman pembelajaran, memperluas wawasan, melatih dan mengembangkan kompetensi yang diperlukan dalam bidangnya, meningkatkan keterampilan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan. Kegiatan magang melibatkan banyak pihak salah satunya yakni sekolah mitra. Mahasiswa yang menempuh mata kuliah ini akan disebar ke sekolah-sekolah mitra yang sudah ditentukan. Salah satu sekolah mitra Universitas Hamzanwadi yaitu MTs. Muallimin NW Pancor. Kami atas nama Muh. Rozi Hidayat, Iin Aulia Suganda, dan Nurdiati mendapat kesempatan untuk melaksanakan magang di sekolah tersebut. Kami dalam kegiatan magang ini diharapkan mampu memahami kultur sekolah, menganalisis kurikulum, memahami strategi pembelajaran, memhami pengembangan bahan ajar, dan sistem evaluasi pembelajaran di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Magang (DPM), bimbingan guru pamong dan kepala sekolah. Pelaksanaan magang di MTs. Muallimin NW Pancor memberikan pengalaman yang luar biasa kepada kami, pengalaman yang belum pernah kami dapatkan selama menjadi pelajar. Keramahan seluruh masyarakat sekolah memberikan kesan yang mendalam pada diri kami. Kami disambut begitu hangat, dipersilahkan dengan penuh kesopanan,  sehingga membuat kami merasa ringan untuk melakukan proses magang tersebut. Ada beberapa hal menarik yang kami temukan ketika proses magang berlangsung, yakni kekompakan para santri ketika menjalankan kegiatan pagi yang mungkin tidak banyak sekolah-sekolah lain melakukannya seperti mengaji bersama, latihan pidato dan diakhiri dengan shalat duha bersama. Hal menarik lainnya yang kami temukan adalah penerapan budaya salam dan budaya malu oleh seluruh masyarakat sekolah. Adapun budaya malu yang diterapkan yaitu  malu karena datang terlambat, malu karena melihat rekan sibuk melakukan aktivitas yang positif, malu karena melanggar peraturan, malu untuk berbuat salah, malu karena bekerja/belajar tidak berprestasi, malu karena tugas tidak terlaksana / selesai pada waktunya dan au karena tidak berperan aktif dalam mewujudkan kebersihan lingkungan sekolah. Hubungan masyarakat sekolah juga terjalin cukup harmonis, baik itu hubungan antara guru dengan guru, guru dengan siswa, dan hubungan antara siswa yang satu dengan siswa lainnya. Selain kultur sekolah yang cukup menarik, kami juga mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana menerapkan metode pembelajaran yang sesuai dengan keadaan siswa, bagaimana menghadapi siswa yang memiliki karakteristik yang beragam, bagaimana cara menyusun perangkat pembelajaran yang baik dan benar. Kami juga bisa belajar untuk mempersiapkan diri menjadi calon guru yang profesional dibidangnya. Tentu dalam proses belajar tersebut tidak terlepas dari bimbingan yang diberikan oleh ibu Mufrihattun, S.Pd dan ibu Nurul Hidayati, S.Pd selaku guru pamong kami. Begitu banyak pengalaman yang kami dapatkan dari proses magang yang kami laksanakan, tulisan di atas merupakan sedikit dari pengalaman tersebut yang dapat kami utarakan. Kami hanya bisa mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada kepala sekolah, guru pamong dan seluruh masyarakat sekolah yang sudah membantu kami sehingga kami dapat menyelesaikan program magang I dan II tepat pada waktunya. 1 2 3 4